Struktur Domestik dan Kebijakan Luar Negeri
Struktur Domestik dan Kebijakan Luar Negeri
Oleh : Henry kissinger
Review Oleh : Anugrah Adi W
Peran dari Struktur Domestik
Dalam keadaan yang stabil,pendekatan tradisional dari struktur domestik dapat diterapkan. Dimana pendekatan ini lebih mengedepankan bahwa struktur domestik telah dianggap sebagai sesuatu yang bersifat given, sedangkan kebijakan luar negeri di ambil setelah kebijakan domestik. Kesepekatan tujuan dan metode dalam kebijakan luar negeri dapat terjadi hanya ketika terdapat gagasan yang sama mengenai keadilan, sehingga apabila kebijakan luar negeri tersebut diambil dalam kadaan struktur domestik yang benar-benar stabil, maka akan sedikit terjadi godaan. Sebaliknya, apabila terdapat gagasan yang berbeda mengenai keadilan, maka keadaan akan rumit, bahkan hanya menjelaskan akar dari ketidaksepakatan. Hal ini dikarenakan ada pandangan yang berbeda, di satu sisi akan tampak secara jelas dan di sisi lain akan nampak bermasalah. Dalam proses menjelaskan suatu permasalahan dan mengatasi permasalahan akan tergantung pada bagaimana kita menginterpretasikan keadilan, tekanan yang ada saat proses pembuatan kebijakan dilakukan, dan pengalaman pemimpin.
Struktur domestik sangatlah penting,mengingat apabila sampai terjadi perbedaan pandangan akan tecipta jurang pemisah yang akan berdampak pada sulitnya mencapai kesepakatan mengenai tujuan dan metode. Di saat satu atau beberapa negara meminta penerapan secara Universal dari struktur domestik mereka, perpecahan tidak akan bisa di hindari. Karena hal tersebut akan mengalihkan komponen substansi dari kebijakan luar negeri pada aspek simboliknya. Sehingga akan sulit memahami perselisihan karena ketidaksepakatan mengarah seperangkat nilai yang ada dalam rencana domestik daripada isu yang spesifik.
Interpretasi tindakan negara lain tidak akan terlepas dari pengaruh struktur domestik. Pada tingkatan tertentu, setiap masyarakat dengan tidak sadar telah berada dilingkungan yang tidak di ciptakannya, yang mana tekanan semakin besar dengan hanya memperbolehkan satu intrepretasi. Namun bagi beberapa negara tertentu, peran dari keputusan pun sangat besar pengaruhnya. Interpretasi terhadap lingkungan dan konsepsi alternatif yang dipunyai pemimpin akan menentukan pilihan. Dalam kebijakan luar negeri, memperkirakan sesuatu yang akan terjadi merupakan aspek yang sangat sulit. Karena disaat kesempatan dari tindakan terbuka lebar, pengetahuan yang dimiliki masih ambigu dan kurang. Sebaliknya, di saat pengetahuan sudah memadai, kemampuan mempengaruhi peristiwa yang jarang terjadi. Adanya beragam struktur domestik menyebabkan banyak perbedaan penilaian mengenai tren yang berkembang, sehingga di perlukan upaya menyelaraskan kriteria penyelesaian perbedaan itu.
Pada periode yang lampau, Hubungan Internasional hanya terjadi pada wilayah geografis. Akan tetapi semenjak berakhirnya Perang Dunia II setiap negara kuat mampu mempengaruhi negara lain dengan kekuasaan yang dimiliki. Konsekuensinya, gagasan negara kuat akan sangat mudah di sebarluaskan dan permusuhan ideologi membawa semakin luasnya signifikansi simbolis yang dapat menentukan isu yang dianggap penting dan tidak dalam geopolitik. Tindakan memadukan perspektif ke dalam skala luas dapat mengakibatkan terjadinya dislokasi. Namun, semenjak 1945 jumlah kontestan dalam HI bertambah banyak. Hal ini tentunya akan menambah kesulitan, yang disebabkan oleh kecenderungan yang mengarah pada instabilitas dan penciptan teknologi modern untuk perdamaian yang resikonya tidak kecil.
Pengaruh dari Struktur Administratif
Saat ini kuat lemahnya ideologi dan keyakinan negarawan dapat dilihat dari struktur pemerintahannya. Isu yang ada sudah mulai berkembang dan fakta sudah terlalu banyak untuk di sesuaikan dengan institusi. Efeknya adalah Institusionalisasi pembuatan kebijakan dan hampir setiap negara modern di bangun oleh teori ‘perencanaan’ supaya memahami dan menciptakan masa depan, dan bahkan memanipulasi lingkungan. Perencanaan tersebut meliputi prediksi dan obeyektifitas. Pada saat mekanisme birokrasi semakin rumit, setiap negara memiliki standar internal operasi dan bahkan struktur birokrasi yang berbeda, sehingga terjadi model autarki yang mana akan menyebabkan peningkatan kontrol terhadap lingkungan domestik yang harus di bayar dengan hilangnya fleksibilitas dalam Hubungan Internasional.
Birokrasi ada untuk mendapatkan standar prosedur operasi agar dapat menyelesaikan masalah secara efektif. Birokrasi dikatakan efisien apabila menangani permasalahan yang sering terjadi dan prosedurnya mampu menyelesaikan masalah itu. Masalah terjadi apabila birokrasi dimaknai sebagai rutinitas yang tidak menyentuh cakupan isu-isu atau untuk menawarkan suatu cara yang tidak sesuai dengan permasalahan. Saat itu,pemimpin akan menyesuaikan harapannya dengan realita yang ada. Dan di saat itu pula dia akan terjebak dalam birokrai dan lupa akan tujuannya. Dalam masyarakat yang cenderung pragmatis, perhatian pemerintah lebih pada menganalisa apa yang saat ini terjadi daripada apa yang akan terjadi. Sedangkan dalam masyarakat dengan basis ideologi, terjadi institusionalisasi doktrin dan penafsiran yang mengarah pada inovasi. Hal ini akan menghasilkan kreatifitas yang justru akan memperlemah doktrinasi. Birokrasi modern menghadapi dilema saat setiap tindakan kreatif berada dalam kesunyian, tidak setiap kesunyian berarti kreatif.
Rumitnya proses pembuatan keputusan negara birokrasi modern adalah terletak pada kekakuan kebijakan. Dimana sekali pembuat kebijakan menelurkan kebijakan, sangat sulit untuk merubahnya. Reputasi dan kemampuan pemimpin tergantung pada kemampuan untuk merealisasikan tujuan. Masyarakat yang birokratis amat menekankan pada pencapaian tersebut. Staf eksekutif basanya akan bertingkah, mereka akan mengubah bantuan membuat kebijakan menjadi organisasi otonomi yang justru membuat rumit isu yang harus di selesaikan. Akan tetapi seorang pemimpin harus selalu sadar akan moral para staf. Akhirnya dalam konteks ini, mendamaikan staf merupakan tugas utama dari kepala negara. Hasil dari demokrasi administratif adalah keputusan yang mencerminkan konsensus daripada perkiraan substansif.
Saat mesin pemerintah berkembang, dalam prosesnya dapat menghasilkan ketidakpastian yang semakin besar apabila terjadi kesenjangan antara kemampuan teknis staf dan pemimpin politik berada dalam tekanan. Sehingga dapat meningkatkan ketidakamanan dam kekhawatiran kepala negara, yang imbasnya pada kekakuan dan kesewenang-wenangan kebijakan.
Lahirnya kebijakan tidak hanya tergantung pada kebenaran akademis akan tetapi juga tergantung kondisi di bawah tekanan. Terjadi perbenturan pragmatisme antara badan eksekutif dan staf perencanaan. Badan eksekutif kemudian mengambil tanggung jawab apabila permasalahan tersebut menyangkut isu administratif. Dengan demikian tanpa sadar telah terjadi kompetisi untuk membuat keputusan di dalam birokrasi. Peran khusus dari eksekutif adalah memilih beberapa proposal yang dihasilkan secara administratif, kemudian pemimpin (pembuat kebijakan)seolah menjadi seorang yang sewenang-wenang.
Kepala negara juga berperan sebagai pengontrol, hal ini di karenakan kepala negara dihadapkan dengan mesin pemerintah yang berpadu bersama sekaligus terpisah. Kepala negara sadar bahwa dia di hadapkan pada proposal yang mengatasnamakan rakyat yang dapat dimanfaatkan oleh agen atau departemen untuk membuat program yang hanya bisa diselesaikan dengan kebijakan sewenang-wenang. Operasi yang demikan akan sangat berbahaya utamanya dalam masa revolusi. Isu yang paling signifikan bisa tidak sesuai dengan pembentukan yang dilakukan oleh pemerintah apalagi bila tidak di ikuti oleh konsensus birokratik.
Apabila setiap mesin pemerintah menyerap permasalahan internal, maka kelenturan diplomasi akan hilang. Pemimpin sadaar akan kondisi yang demikian,mereka tidak dapat menghindari preskripsinya tanpa membuat persoalan moral yang lebih serius. Di dalam aliansipun ini merupakan kebenaran. Eratnya karakteristik antara entitas berdaulat dalam proses internal pembuatan kebijakan akan menyulitkan konsultasi dengan negara lain. Kesenjangan akan muncul apabila 2 birokrasi besar membuat tujuan-tujuan dengan menggunakan cara mengisolasi satu dan yang lainnya, hal ini akan menjadi lebih parah apabila diikuti oleh perbedaan ideologi. Karena ideologi sangat mempengaruhi dalam kriteria pembuatan kebijakan birokratik. Semakin berkembang suatu struktur pemerintah, semakin kurang relevan pandangan seseorang. Karena tujuan birokrasi lainnya adalah membebaskan pembuatan kebijakan dari seorang tokoh. Modifikasi keyakinan personal akan mengubah komitmen birokrasi maka kemudian birokrasi akan menentukan langkahnya sendiri tanpa di pengaruhi oleh negarawan atau tekanan luar negeri. Oleh sebab itu, diplomasi cenderung kaku dan hanya merupakan proses tawar-menawar seperti “memecah perbedaan”. Hal ini bertentangan dengan tujuan diplomasi dan melemahkan tujuan teknik dan melahirkan keangkuhan.
Perbedaan ideologi semakin meningkat karena berada pada tahap pertama evolusi administrsi.Sangat kontradiktif hubungan antara negara maju dan negara berkembang. Saat negara maju mengalami over administrasi, negara berkembang justru lebih kesulitan dengan birokrasi efektif. Saat negara maju menggambarkan fakta, negara berkembang kekurangan pengetahuan dasardalam membentuk penilaian. Saat negara maju mengalami kekakuan birokrasi, negara baru cenderung mengmbil keputusan dibawah tekanan. Ini menandakan bahwa institusionalisasi berlebih di satu sisi dan kekurangan struktur di sisi lainnya.
Sifat Dasar dari Kepemimpinan
Keputusan yang diambil oleh individu dari berbagai pilihan , pemahamannya tergantung pada beberapa faktor seperti pengalaman selama proses menuju pimpinan. Keruntuhan kebijakan luar negeri aristokrasi telah membuat pengalaman akrir pemimpin menjadi sesatu yang sangat penting. Ketika seorang pemimpin menilai dirinya bahwa tidak tergantung pada posisinya dalam struktur pemerintahan, kita dapat menilai hal tersebut sebagai konsepsi yang dimilikinya dari pada menilainya sebagai hasrat untuk menghindar dari kejatuhan. Apabila negarawan menjadi bagian dari masyarakat yang melebihi batas negara, maka cenderung terjadi konsensus.meskipun hal tersebut tak mencegah konflik, namun mendefinisikan hakikat dan mendorong terjadinya dialog.
Kelompok kepemimpinan minimal dibentuk oleh 3 faktor yaitu : pengalamannya selama naik ke puncak, struktur dimana mereka memerintah, dan nilai-nilai masyarakat mereka. Sementara itu, terdapat tiga tipe kepemimpinan yaitu : Tipe birokratik pragmatisme, tipe ideologis, dan tipe revolusioner karismatik.
Kepemimpinan tipe birokratik pragmatis
Contoh utamanya adalah elit Amerika. Karena terbentuk oleh masyarakat yang tidak mempunyai permasalahan, dan sebagai produk dari lingkungan yang selalu memiliki pemecahan masalah, pendekatan kebijakannya yang ad-hoc, pragmatis dan mekanistis.
Pragmatisme yakin bahwa konteks suatu peristiwa akan selalu ada pemecahannya, sehingga cenderung menanti pembangunan. Walaupun setiap permasalahan ada dalam teori, namunsulit mencapai kesepakatan mengenai faktor-faktor apa sajakah dan cara bagaimanakah dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Suatu hal dapat siselesaikan karena seseorang tahu tentang cara menanganinya, bukan karena seseorang seharusnya tahu bagaimana cara mengatasinya. Dengan demikian pragmatisme lebih menekankan pada aspek metode daripada penilaian.Dalam kepemimpinan di Amerika, pragmatisme memiliki beberapa konsekuensi yaitu meningkatkan kecenderungan untuk menyamakan kebijakan luar negeri dengan isu-isu saat ini; menghasilkan penyelesaian yang tepat saat isu muncul; namun juga turut menghasilkan dilema pemerintah. Keberhasilan personal maupun birokrasi dimaknai saat mengarahkan kewajiban-kewajiban khusus ke arah kesimpulan. Kegagalan konferensi dianggap sebagai ketimampuan negosiator daripada sulitnya pencapaian tujuan.
Di Amerika kemampuan khusus eksekutif terletak pada koordinasi antar fungsi, dalam hal ini eksekutif meningkat kemampuan pribadi, keteguhan dan pengalaman untuk mencapai tujuan. Setiap masalah akan segera diselesaikan. Keputusan yang diambil oleh pemerintah muncul dari kompromi atas tekanan-tekanan konflik. Ad hoc cenderung ada pada pembuatan kebijakan, sedangkan kepercayaan akan cara kerja lawan akan dipandang sebagai hitam putih. Latar belakang pembuatan kebijakan cenderung menghasilkan bias dalam solusi konstitusi. Kelompok kepemimpinan di Amerika menunjukkan kompetensi yang tinggi dalam menangani isu-isu teknis, akan tetapi kurang mampu menguasai proses sejarah.
Tipe Kepemimpinan Ideologis
Pengaruh ideologi dapat bertahan lebih lama walaupun kekuasaan yang dimiliki telah habis. Ideologi komunis menyediakan suatu cara untuk memelihara kohesi antar berbagai macam partai-partai komunis di dunia. Ideologi ini dapat menyebabkan perpecahan didalam birokrasi dalam negara-negara komunis individu maupun diantara negara-negara komunis lainnya. Ideologi ini turut pula menciptakan dinamika internasional. Pemimpin komunis selalu yakin bahwa marxis leninisme merupakan kunci atas superioritas mereka di dunia.
Inti ajaran marxis Leninisme adalah bahwa pandangan faktor-faktor obyektif seperti struktur sosial, proses ekonomi dan perjuangan kelas merupakan sesuatu yang dianggap lebih penting daripada keyakinan pribadi. Hal ini menjelaskan perilaku soviet dalam keamanan. Menurut mereka keyakinan pribadi bersifat subyektif , sedangkan keamanan soviet tidak bertumpu pada niat bai negarawan dan perbedaan sistem sosial. Hal ini menyebabkan keamanan absolut. Yaitu usaha untuk memperkuat diri sendiri dan independent dalam pembuatan keputusan tanpa dipengaruhi negara lain. Ini dapat diartikan ancaman bagi negara lainnya.
Keyakinan akan faktor-faktor domestik membuat negosiasi antara negara barat dan negara komunis menjadi sulit. Karena salah satu pihak mempertimbangkan bahwa kunci negosiasi bukan sebagai suprastruktur bagi fasilitas-fasilitas yang tidak menjadi bagian dari negosiasi itu sendiri. Dalam sistem yang tidak legitimate , energi diserap ke dalam manuver internasional. Pemimpin menduduki jabatannya dengan mengeliminasi setiap kemungkinan lawan. Siapa yang memimpin komunis harus single minded, tidak emosional, mempunyai dedikasi, dan didorong oleh hasrat kekuasaan.
Kombinasi antara kualitas pribadi dan struktur ideologis mempengaruhi hubungan antar negara komunis. Kecenderungan memperlakukan opini-opini yang berbeda sebagai manifestasi mistis membuat ketidakpastian yang dapat berubah menjadi perpecahan. Dalam hubungan internasional, pengaruh struktur domestik negara komunis sangat besar. Struktur birokratis negara komunis meskipun pragmatis tapi mempunyai prioritas yang berbeda dari negara non komunis seperti Amerika. Mereka lebih menekankan pada pertimbangan doktrinasi dan permasalahan konseptual.
Tipe Kepemimpian Revolusi Karismatis
Dalam sistem internasional saat ini, banyak terdapat tipe pemimpin revolusi karismatik. Kemunculan mereka akibat dari ketidaktertarikan pada birokrasi pragmatis Barat dan memandang ideologi tidaklah memuaskan.Tipe ini berasal dari tipe individual yang memimpin perjuangan kemerdekaan yang penuh dengan resiko dan penderitaan sehingga melahirkan komitmen yang luar biasa untuk sebuah visi sehingga dengan visi tersebut mereka mampu mengatasi keadaan.Revolusionis tidaklah dipengaruhi oleh material. Tipe ini lebih mengedepankan masa depan yang lebh baik. Contohnya adalah Fidel Castro dan Bung Karno. Realitas bagi mereka adalah ketika memperjuangkan sesuatu untuk membawa perubahan. Bagi pemimpin karismatik, kemajuan ekonomi akan membatasi ambisinya. Hal ini berbeda dengan Barat yang menganggap ekonomi harus mendapatkan prioritas yang tinggi. Bagi mereka kemajuan ekonomi membutuhkan waktu yang panjang menyakitkan, dan penuh dengan peraturan teknis. Hal ini bertentangan dengan inti perjuangan mereka yang lebih bersifat heroik dalam perjuangannya mendapatkan kemerdekaan.
Kebijakan luar negeri banyak digunakan pemimpin negara-negara baru untuk menghindar dari kesulitan internal dan sebagai alat meraih kohesi apapun bentuk sistem pemerintahnnya.Sering terjadi kerusuhan anti Barat yang hal tersebut disengaja untuk menciptakan perjuangan melawan penjajah.
Dalam sistem internasional Terdapat banyak hal yang dapat dikaji. Dinamika yang pasang surut merupakan sesuatu yang unik didalam hubungan internasional. Interaksi yang kompleks semakin mewarnai dinamika hubungan internasional tersebut. Hal tersebut tidak terlepas dari peran kepentingan yang diusung oleh aktor dalam hubungan Internasional yang menjadi bagian dari nasional interest mereka. Oleh karena itu, maka proses pembuatan kebijakan luar negeri menjadi penting untuk dikaji.
Khusus dalam mempelajari tingkah laku pembuatan kebijakan luar negeri, banyak hal harus dilihat. Apabila dalam memandang proses pembuatan kebijakan luar negeri tersebut terlepas dari hal-hal tersebut maka akan terjadi kelemahan dalam mempelajari proses pembuatan kebijakan luar negeri tersebut.
Ada banyak hal yang dapat dilihat dalam menganalisa proses pembuatan kebijakan tersebut. Yang utama harus kita perhatikan adalah bagaimana melihat latar belakang struktur domestik di dalam negara yang bersangkutan. Ini menjadi penting dikarenakan kebijakan luar negeri merupakan kelanjutan dari kebijakan dalam negeri yang kesemuanya termanifestasi dalam kepentingan negara.
Selain itu, kita juga tidak dapat terlepas dari peran pemimpin politik. Karena proses pembuatan kebijakan tidak akan terlepas dari interpretasi yang diterima oleh aktor dalam negara tersebut untuk kemudian diaplikasikan dalam kebijakan yang akan diambil. Hal ini membawa kita untuk melihat siapa aktor pembuatan kebijakan tersebut dan apa tujuan dari kebijakan terebut yang dikeluarkan oleh pemimpin politik.
Kesimpulan
Dalam keadaan stabil struktur domestik lebih diartikan sebagai sesuatu yang given. Kebijakan luar negeri merupakan kelanjutan dari kebijakan dalam negeri. Apabila gagasan keadilan sama, maka tujuab dan metode kebijakan luar negeri akan sedikit mengalami gangguan, begitu pula sebaliknya. Di saat satu atau beberapa negara meminta penerapan secara Universal dari struktur domestik mereka, perpecahan tidak akan bisa di hindari. Interpretasi tindakan negara lain tidak akan terlepas dari pengaruh struktur domestik. Interpretasi terhadap lingkungan dan konsepsi alternatif yang dipunyai pemimpin akan menentukan pilihan. Dalam kebijakan luar negeri, memperkirakan sesuatu yang akan terjadi merupakan aspek yang sangat sulit. Struktur administrasi dan sifat kepemimpinan merupakan dua hal dari struktur domestik yang mempengaruhi kebijakan luar negeri.
Peran struktur administratif lebih ditekankan pada birokrasi. Birokrasi ada untuk mendapatkan standar prosedur operasi agar dapat menyelesaikan masalah secara efektif. Masalah terjadi apabila birokrasi dimaknai sebagai rutinitas yang tidak menyentuh cakupan isu-isu atau untuk menawarkan suatu cara yang tidak sesuai dengan permasalahan. Dalam masyarakat yang cenderung pragmatis, perhatian pemerintah lebih pada menganalisa apa yang saat ini terjadi daripada apa yang akan terjadi. Sedangkan dalam masyarakat dengan basis ideologi, terjadi institusionalisasi doktrin dan penafsiran yang mengarah pada inovasi. Rumitnya proses pembuatan keputusan negara birokrasi modern adalah terletak pada kekakuan kebijakan. Dimana sekali pembuat kebijakan menelurkan kebijakan, sangat sulit untuk merubahnya. mendamaikan staf merupakan tugas utama dari kepala negara. Akhirnya dalam konteks ini, mendamaikan staf merupakan tugas utama dari kepala negara. Hasil dari demokrasi administratif adalah keputusan yang mencerminkan konsensus daripada perkiraan substansif. Terjadi perbenturan pragmatisme antara badan eksekutif dan staf perencanaan. Oleh karenanya kepala negara juga berperan sebagai pengontrol.
Apabila setiap mesin pemerintah menyerap permasalahan internal, maka kelenturan diplomasi akan hilang. Eratnya karakteristik antara entitas berdaulat dalam proses internal pembuatan kebijakan akan menyulitkan konsultasi dengan negara lain. Kesenjangan akan muncul apabila 2 birokrasi besar membuat tujuan-tujuan dengan menggunakan cara mengisolasi satu dan yang lainnya, hal ini akan menjadi lebih parah apabila diikuti oleh perbedaan ideologi. Modifikasi keyakinan personal akan mengubah komitmen birokrasi maka kemudian birokrasi akan menentukan langkahnya sendiri tanpa di pengaruhi oleh negarawan atau tekanan luar negeri.
Sementara itu peran dari sifat dasar kepemimpinan lebih ditekankn pada tipe kepemimpinan. Kelompok kepemimpinan minimal dibentuk oleh 3 faktor yaitu : pengalamannya selama naik ke puncak, struktur dimana mereka memerintah, dan nilai-nilai masyarakat mereka. terdapat tiga tipe kepemimpinan yaitu : Tipe birokratik pragmatisme, tipe ideologis, dan tipe revolusioner karismatik. Dalam tipe birokratik pragmatisme, Pragmatisme yakin bahwa konteks suatu peristiwa akan selalu ada pemecahannya, sehingga cenderung menanti pembangunan. Suatu hal dapat siselesaikan karena seseorang tahu tentang cara menanganinya, bukan karena seseorang seharusnya tahu bagaimana cara mengatasinya. pragmatisme lebih menekankan pada aspek metode daripada penilaian. Sedangkan dalam tipe kepemimpinan ideologis,lebh ditekankan pada ideologi komunis. Ideologi ini dapat menyebabkan perpecahan didalam birokrasi dalam negara-negara komunis individu maupun diantara negara-negara komunis lainnya. Pemimpin komunis selalu yakin bahwa marxis leninisme merupakan kunci atas superioritas mereka di dunia. Inti ajaran marxis Leninisme adalah bahwa pandangan faktor-faktor obyektif seperti struktur sosial, proses ekonomi dan perjuangan kelas merupakan sesuatu yang dianggap lebih penting daripada keyakinan pribadi. Kombinasi antara kualitas pribadi dan struktur ideologis mempengaruhi hubungan antar negara komunis. Kecenderungan memperlakukan opini-opini yang berbeda sebagai manifestasi mistis membuat ketidakpastian yang dapat berubah menjadi perpecahan. Sedangkan tipe kepemimpinan revolusiner karismatik melihat ketidaktertarikan pada birokrasi pragmatis Barat dan memandang ideologi tidaklah memuaskan. Tipe ini berasal dari tipe individual yang memimpin perjuangan kemerdekaan yang penuh dengan resiko dan penderitaan sehingga melahirkan komitmen yang luar biasa untuk sebuah visi sehingga dengan visi tersebut mereka mampu mengatasi keadaan. Realitas bagi mereka adalah ketika memperjuangkan sesuatu untuk membawa perubahan. Bagi pemimpin karismatik, kemajuan ekonomi akan membatasi ambisinya. Kebijakan luar negeri banyak digunakan pemimpin negara-negara baru untuk menghindar dari kesulitan internal dan sebagai alat meraih kohesi apapun bentuk sistem pemerintahannya.
Saran dan Kritik
Karya Henry Kissinger ini lebih ditekankan proses pembuatan kebijakan luar negeri yang menurut saya sangat pada masa pasca Perang Dunia II. Dia lebih menekankan peranan struktur domestik yang dilihat dari sudut pandang realis. Dia banyak mengesampingkan hal-hal yang bersifat proaktif, dia lebih mengedepankan kebijakan tersebut diambil sebagai tindakan reaktif dari persoalan kebijakan dalam negeri.
Dalam pendekatan yang diberikan oleh Henry Kissinger, Struktur domestik lebih dilihat sebagai sesuatu yang bersifat given. Selain itu pula, Penerapan teori yang diberikan oleh Kissinger labih banyak mengedepankan peran struktur domestik Barat yang tentunya belum tentu dilakukan oleh negara bagian Timur. Kissinger melupakan tentang proses struktur domestik di negara otoriter, karena Kissinger lebih menekankan pad struktur domestik Barat.
Kissinger melihat Barat sebagai negara yang banyak menyelesikan masalah. Dia tidak melihat bahwa permasalahan muncul dari aplikasi nilai-nilai barat di dalam suatu negara baru.
Dengan mengakarkan pada dua hal tersebut, maka analisis kebijakan luar negeri akan lebih mudah dipahami dan dimengerti. Untuk itulah maka tulisan artikel Henry Kissinger ini dibuat, karena didalam artikel ini terdapat penjelasan yang lengkap mengenai faktor-faktor yang berpengaruh dalam kebijakan luar negeri. Di harapkan kita semua dapat menginterpretasikan persoalan kebijakan luar negeri yang ada pada saat ini dengan melihat faktor-faktor yang dijelaskan dalam tulisan Henry Kissinger ini.
Editor adalah mahasiswa Universitas Jember, Fakultas ISIP, Jurusan Hubungan Internasional. Saat ini editor banyak aktif sebagai penggerak diskusi kelompok mahasiwa Hubungan Internasional, Editor juga pada saat ini lebih memfokuskan sebagai pemerhati perkembangan Situbondo, selain itu editor juga aktif dalam kegiatan organisasi ekstra maupun Intra. Pada saat ini Editor juga aktif dalam organisasi ke-olahraga-an di Universitas Jember dan sedang menjabat sebagai ketua umum Unit Kegiatan Mahasiswa tingkat Universitas Cabang Olahraga Badminton (UKMO Badminton UNEJ)

makasii ya Anugrah adi..
review nya sangat membantu saia..^_^
indaH menii said this on October 19, 2009 at 9:43 am